Kasus George Floyd Dijadikan Kesempatan Suarakan Papua, Tenaga Ahli Bilang 'Jangan Disamakan'

VONMAGZ, Jakarta- Kasus George Floyd yang menimbulkan kerusuhan di akhir bulai Mei lalu memang mendapatkan perhatian dari seluruh masyarakat di dunia. Selain itu, timbulnya kerusuhan hingga penjarahan yang terjadi semakin membuat suasana di Amerika Serikat menjadi mencekam. Ini semua memancing amarah publik karena tidak hentinya sikap rasisme yang terjadi. Bukannya diciptakan perubahan, malah memakan banyak korban.

Dok : Evening Report


Publik di seluruh dunia pun mulai berbondong bondong untuk menyebar luaskan situasi pendidikan tentang rasisme di media sosial demi sebuah perubahan. Bukan hanya di Amerika, momentum tersebut justru dijadikan kesempatan bagi warga Indonesia yang merasa kasus rasisme juga terjadi di Papua. Ini diungkapkan ketika kembali pada kasus di tahu. 2016 dimana beberapa mahasiswa Papua yang sedang menggelar demo dilaporkan mendapat perlakuan ancaman dan intimidasi dari pihak kemanan. Salah satu mahasiswa tersebut dijadikan tersangka karena dituduh melakukan kekerasan kepada pihak aparat keamanan.


Di sisi lain, Rumadi Ahmad yang merupakan Tenaga Ahli Utama Kedeputian V mengungkapkan bahwa apa yang terjadi di Papua bukan karena rasisme. "menurut saya bukan soal rasisme, tapi memang soal rumitnya persoalan di Papua. Cara pandang rasisme harus dibuang jauh jauh, soal ketertinggalan ekonomi ada dimana mana bukan hanya di Papua saja" ungkapnya.


Pemerintah dan TNI juga tidak berhenti untuk melakukan pembangunan di Papua. Akun twitter @puspen_TNI menyebarkan beberapa foto dimana para TNI membantu kebutuhan sehari hari bagi warga Papua. "Pemerintah akan terus lanjutkan pembangunan di Papua. Rakyat Papua harus mendapatkan keadilan untuk menikmati hasil pembangunan seperti di daerah lainnya. Memang tidak ada yang sempurna, kalau masih ada kekurangan pasti akan diperbaiki bersama" ungkap Rumadi.


Meskipun begitu, menurut Rumadi bahwa pemerintahan di Indonesia harus belajar dari kasus George Floyd. Menurutnya, Amerika Serikat yang merupakan negara demokrasi saja ternyata masih menyimpan masalah rasisme yang mendalam.

0 comments