Aksi Tutup Mulut Pemain German di Awal Pertandingan Dihujat Setelah Kalah Lawan Jepang 2-1

Updated: Nov 24

VONMAGZ, JAKARTA- Pemain German menutup mulut mereka di Stadion Qatar pada Rabu (23 November) pada awal pertandingan sebelum melawan Jepang. Aksi tutup mulut tersebut merupakan bentuk protes atas keputusan FIFA untuk melarang atribut LGBT di lengan kapten yang rencananya digunakan selama pertandingan di Piala Dunia Qatar 2022. FIFA sendiri melarang ban lengan 'OneLove' tersebut karena dinilai telah melanggar undang-undag di Qatar dimana homoseksualitas adalah ilegal.

Photo Courtesy of Washington Post


Saat pertandingan dimulai, Asosiasi Sepak Bola Jerman mengeluarkan pernyataan tegas yang mendukung tim-nya. "Melarang ban kapten sama saja dengan melarang hak kami untuk berbicara" ungkapnya. Sementara dari tribun, Menteri Dalam Negeri Jerman, Nancy Feaser malah mengenakan atribun LGBT itu disebelah presiden FIFA Gianni Ingantino.


Berbicara kalah sebelum pertandingan, Faeser sendiri mengatakan bahwa larangan FIFA soal ban lengan adalah sebuah kesalahan besar. Menurutnya, pemain dan penggemar diizinkan untuk menunjukkan simbol pro-LGBT secara terbuka. Sementara petugas keamanan di Qatar World Cup memerintahkan penonton yang masuk stadium melepas atribut maupun pakaian yang menampilkan logo pelangi apapun.


Di sisi lain, Jerman di akhir pertandingan dinyatakan kalah melawan Jepang yang membuat kaget publik. Ini merupakan kemenangan bersejarah bagi Jepang melawan Jerman dengan skor 2-1, dimana sebelumnya sempat tertinggal lebih dari oleh Jerman 1-0. Para pemain Jepang di peluit akhir berhamburan masuk ke dalam lapangan untuk merayakan kemenangan tersebut.


Menanggapi kemenangan Jepang, banyak publik yang menilai bahwa German terlalu fokus pada politik dibandingkan dengan strategi permainan. Mereka dinilai terlalu mempermasalahkan masalah LGBT dari awal Piala Dunia digelar bahkan saat pertandingan akan dimulai. Tidak sedikit juga banyak yang menghujat bahwa German terlalu percaya diri karena lawannya adalah Jepang.



0 comments